Pura Puseh

Jalan Raya Abianbase, Kelurahan Abianbase, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung - Bali

Puncak Karya : Wraspati wuku Buda Manis Medangsia

Pura Puseh

Berdasarkan temuan babad, khususnya babad Shri Aji Kepakisan dan Mpu Bantas yang bersangkut paut dengan pendirian Desa Adat Abianbase Kelurahan Abianbase Kecamatn Mengwi, Kabupaten Badung akan menjadi awal untuk melakukan penelusuran Sejarah keberadaan Desa Adat Abianbase.

Pada jaman pemerintahan Shri Kreshna Kepakisan, penduduk Bali Aga yang mayoritas merupakan penduduk Bali banyak timbul pertentangan/perselisihan karena menganut 9 sekta agama. Antara sekta itu banyak muncul masalah sosial yang harus mendapat perhatian oleh pemerintah (raja) demi terciptanya keamanan dan ketertiban Masyarakat.

Berkenaan dengan itu pemerintah (raja) mendatangkan para pendamping yaitu para kaum Brahmana dari Jawa Timur yang merupakan empat bersaudara yaitu;

  1. Mpu Sumeru yang berparhyangan di Bhasukih, yang diberi tugas ngempon Kahyangan Bhatara Hyang Putranjaya di Bhasukih, yang pada akhirnya berdiri sebuah Pura yang Bernama Pura Ratu Pasek.
  2. Mpu Gana yang berparhyangan di Gelgel, dan di tempat ini berdiri sebuah Pura yang Bernama Pura Dasar Bhuwana gelgel.
  3. Mpu Kuturan yang berparhyangan di Padang, di tempat ini berdiri sebuah pura yang Bernama Pura Silayukti.
  4. Mpu Gnijaya, beliau ber parhyangan di Gunung Lempuyang Madhya. Sebagai pengempon parhyangan Bhatara Gnijaya, dan di tempat ini berdiri sebuah Pura yang Bernama Pura Lempuyang Madhya.

Untuk menyelesaikan perselisihan 9 sekta agama tersebut di atas, menurut Mpu Kuturan diperlukan adanya perubahan tatanan kehidupan Masyarakat, demi terciptanya Masyarakat yang aman, tertib terkendali, Sejahtera lahir bhatin.

Ada tiga Keputusan yang disepakati dalam sebuah pertemuan para sekta:

  1. Paham Tri Murthi atau Tri Sakti yang Tunggal dijadikan dasar keagamaan.
  2. Tiap-tiap wilayah agar dibangun Desa Adat dan pada tiap-tiap Desa Adat agar didirikan bangunan suci yang disebut parhyangan dan baru setelah jaman Dhalem Waturenggong berkuasa di Bali parhyangan itu diganti Namanya menjadi Pura. Parlıyangan yang dimaksud adalah Kahyangan Tiga, sebagai tempat pemujaan dan memulyakan manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam prabhawanya sebagai Sanghyang Brahma, Sanghyang Wishnu dan Sanghyang Siwa.
  3. Pada tiap-tiap rumah diwajibkan membangun tempat suci dalam bentuk Rong Tiga yang lebih dikenal dengan sebutan Kamulan. Nama tempat ini akhirnya disebut Merajan atau Sanggah. Yang berstana di Kamulan adalah Sanghyang Tri Murthi (Brahma, Wishnu, Siwa). Bersatunya manifestasi Tuhan itulah beliau disebut Bhatara Guru.

Desa Adat Abianbase, Kelurahan Abianbase, Mengwi-Badung adalah desa yang mulai dibangun pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong di Bali yaitu peradaban Sejarah Bali tengahan.

Keberadaan Desa Adat Abianbase tidak terlepas dari perjalanan Rsi Mpu Bantas dari Tembahu menuju hutan Kayu Putih, bertemu dengan sanak keturunan Mpu Gnijaya yang telah menghuni wilayah itu. Atas saran beliau, agar ditempat itu dibangun sebuah tempat pemujaan/Pura.

Pura yang dibangun itu diberikan nama Pura Pernataran, dilanjutkan membangun Pura Kahyangan Tiga. Wilayah ini dinamai Desa Abianbase, yang dibangun pada Caka 1486 masehi.

Desa Adat Abianbase memiliki warga yang lazim disebut dengan istilah krama Desa Adat yang bertanggung jawab terhadap wilayahnya, yang merupakan Kumpulan warga Masyarakat, dan memiliki tanggung jawab secara langsung dalam kaitan dengan keberadaan desa adat dan pura penyungsungan Desa Adat.

Krama inilah yang sepenuhnya berkewajiban melaksanakan swadharma ngupahayu desa adat dan parhyangan (Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem-Prajapati dan Pura-pura lainnya di wilayah Desa Adat Abianbase), yang dibangun secara bertahap semenjak Caka 1564 Masehi.

Jajar Kemiri Pura Puseh
Pemangku Pura Puseh
Jero Mangku I Made Danu Pudiantara

Jero Mangku I Made Danu Pudiantara

No Tlp: -

Alamat: Lingk. Gaduh Abianbase

Peta Wilayah Desa Adat Abianbase